Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
BEDAH TAKTIK

Latihan Anti Kapal Selam TNI AL di Selat Sunda Gunakan Taktik Hunt and Kill

Latihan anti kapal selam TNI AL di Selat Sunda menggunakan taktik hunt and kill melalui lima tahapan: deteksi, pelacakan kontak, pendekatan kecepatan rendah, peluncuran torpedo APR-3E, dan verifikasi. Koordinasi antara bridge, sonar room, dan tactical command center menjadi kunci keberhasilan operasi. Hasil evaluasi dalam format after-action review akan digunakan untuk menyempurnakan doktrin AKS TNI AL.

Latihan Anti Kapal Selam TNI AL di Selat Sunda Gunakan Taktik Hunt and Kill

Latihan anti kapal selam (AKS) TNI AL di Perairan Selat Sunda pada 24 September 2026 menguji ketajaman taktik hunt and kill — sebuah prosedur ofensif yang dirancang untuk memburu dan menghancurkan target bawah air dalam satu siklus operasi. Dalam skenario ini, KRI berperan sebagai surface combatant yang harus mendeteksi, melacak, dan menyerang satu kapal selam kelas Chang Bogo yang beroperasi sebagai target. Setiap langkah dijalankan dengan prosedur baku yang menuntut sinkronisasi ketat antara bridge, sonar room, dan tactical command center.

Tahapan Taktik Hunt and Kill: Dari Deteksi Hingga Penghancuran

Proses dimulai dengan fase deteksi awal menggunakan sonar aktif dan pasif yang dioperasikan dari KRI. Setelah kontak berhasil diperoleh, tim AKS segera melaksanakan prosedur contact tracking selama 30 menit untuk memastikan akurasi posisi dan haluan target. Tahapan selanjutnya adalah approach pattern dengan kecepatan rendah 10 knot — langkah krusial untuk menghindari deteksi balik dari kapal selam lawan. Pada fase final, KRI meluncurkan torpedo ringan tipe APR-3E pada jarak tembak efektif 5.000 meter. Setelah torpedo mencapai sasaran (dalam simulasi), kapal selam muncul ke permukaan untuk verifikasi keberhasilan.

  • Deteksi: Sonar aktif dan pasif dari KRI untuk mengidentifikasi target bawah air.
  • Contact Tracking: Pemantauan kontak selama 30 menit untuk validasi posisi.
  • Approach Pattern: Manuver mendekat dengan kecepatan rendah (10 knot) demi siluman.
  • Penyerangan: Peluncuran torpedo APR-3E pada jarak 5.000 meter.
  • Verifikasi: Kapal selam muncul ke permukaan untuk konfirmasi hasil serangan.

Koordinasi Unsur dan Evaluasi Doktrin AKS TNI AL

Latihan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas unsur di atas kapal. Bridge bertanggung jawab atas navigasi dan manuver taktis, sonar room memproses data akustik secara real-time, sementara tactical command center mengambil keputusan tempur. Setiap tahapan dicatat dalam format after-action review untuk mengevaluasi efektivitas doktrin AKS TNI AL. Pelajaran yang diperoleh dari latihan ini akan menjadi masukan berharga dalam penyempurnaan prosedur operasi standar, khususnya dalam penerapan taktik hunt and kill di perairan sempit seperti Selat Sunda.

Secara taktis, latihan ini menggarisbawahi prinsip bahwa keberhasilan operasi anti kapal selam sangat bergantung pada disiplin akustik dan koordinasi tim. Kecepatan rendah saat mendekati target bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga elemen kejutan. Tanpa itu, kapal selam lawan dapat dengan mudah membalikkan peran menjadi pemburu. Inilah mengapa setiap latihan AKS TNI AL selalu mengedepankan prosedur baku yang terukur — agar dalam situasi nyata, setiap kru mampu menjalankan perannya secara presisi.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL
Lokasi: Selat Sunda