Latihan puncak Land Joint Strike (LJS) dalam rangkaian Latgabma SGS 2026 digelar di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan. Latihan ini dirancang untuk menguji integrasi sistem komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan, dan pengintaian (C4ISR) dalam serangan gabungan darat skala besar. Skema taktis dimulai dengan fase shaping the battlefield—penyiapan medan tempur melalui tembakan persiapan jarak jauh yang melibatkan alutsista artileri modern seperti Astros II MLRS TNI dan HIMARS Amerika Serikat. Seluruh manuver dikoordinasikan dalam satu komando terpadu untuk memastikan sinkronisasi efek tembakan dan pergerakan pasukan.
Fase Pembentukan Medan Tempur (Shaping the Battlefield)
Pada tahap awal, unsur artileri jarak jauh melakukan penembakan preparasi (preparatory fires) untuk menetralisasi pertahanan musuh di garis depan. Astros II MLRS TNI dan HIMARS AS melaksanakan tembakan presisi tinggi yang diarahkan oleh sistem C4ISR. Setelah itu, serangan udara langsung (close air support) dilaksanakan oleh pesawat F-16 Fighting Falcon dan helikopter serang AH-64E Apache dari kedua negara. Prosedur pemanggilan tembakan (call for fire) dilakukan melalui Joint Terminal Attack Controller (JTAC) yang terintegrasi dalam jaringan komando terpadu. Tahapan ini penting untuk memastikan efek tembakan tidak mengganggu pergerakan pasukan darat yang akan maju.
- Astros II MLRS menggunakan roket jarak jauh untuk menghancurkan titik pertahanan musuh.
- HIMARS menembakkan rudal presisi untuk menetralisasi pos komando dan artileri lawan.
- F-16 dan AH-64E melaksanakan close air support dengan panduan laser dari JTAC di darat.
- Seluruh data situasional (situational awareness) dibagikan real-time melalui sistem komunikasi digital terpadu.
Serangan Gabungan Dua Arah (Two-Pronged Combined Arms Assault)
Setelah fase preparasi selesai, tibalah tahap utama berupa serangan gabungan darat (combined arms assault) dengan skema formasi dua arah (two-pronged attack). Serangan utama (main attack) dilakukan oleh pasukan infantri mekanis dengan dukungan tank tempur utama (MBT) untuk menerobos pertahanan musuh secara frontal. Serangan pendukung (supporting attack) dilaksanakan oleh pasukan infantri ringan yang bergerak cepat untuk mengalihkan perhatian musuh (fixing maneuver), sehingga pasukan utama dapat menembus dengan lebih efektif. Koordinasi antara kedua poros serangan dijaga melalui sistem komando terpadu yang memungkinkan pertukaran data situasional secara instan antara pusat komando (command post), unsur manuver, dan unsur pendukung.
- Pasukan infantri mekanis bergerak di belakang gelombang tank untuk membersihkan sisa perlawanan.
- Pasukan ringan memanfaatkan medan sulit untuk menekan sayap musuh dan memancing pemindahan pasukan cadangan lawan.
- Pusat komando mengarahkan ulang artileri dan dukungan udara jika terjadi perubahan di medan tempur.
Latihan mengakhiri dengan fase konsolidasi dan penataan ulang pasukan (consolidation and reorganization) setelah objektif berhasil direbut. Proses ini mencakup evakuasi korban, pengamanan area, dan penyiapan posisi pertahanan baru. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya sinergi alutsista dari berbagai matra—udara, darat, dan artileri—yang diikat oleh satu komando terpadu. Tanpa integrasi C4ISR yang solid, serangan gabungan seperti land joint strike tidak akan mencapai efek maksimal.