Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

KRI Bung Tomo Simulasi Pertahanan Udara Terhadap Serangan Drone Swarm: Analisis Skema Engage-on-Remote

KRI Bung Tomo menguji doktrin pertahanan berlapis (layered defense) menghadapi serangan drone swarm, yang meliputi deteksi dini dengan radar khusus, netralisasi elektronik (soft-kill) melalui jamming dan decoy, serta penghancuran fisik (hard-kill) menggunakan meriam 57 mm dan CIWS dalam mode otomatis. Simulasi ini menekankan pentingnya integrasi sistem dan taktik engage-on-remote untuk menetralisir ancaman dari jarak jauh sebelum mencapai kapal.

KRI Bung Tomo Simulasi Pertahanan Udara Terhadap Serangan Drone Swarm: Analisis Skema Engage-on-Remote

Dalam skenario pertempuran modern, ancaman drone swarm atau serangan massal drone menjadi tantangan nyata bagi pertahanan udara kapal perang. KRI Bung Tomo (357), sebuah fregat kelas Diponegoro, baru-baru ini menguji coba doktrin layered defense atau pertahanan berlapis untuk menghadapi skenario ini di Laut Jawa. Simulasi ini berfokus pada penerapan taktik engage-on-remote, di mana ancaman dinetralisir dari jarak jauh sebelum mencapai jarak efektif serang, dengan mengintegrasikan deteksi, perang elektronik, dan sistem senjata fisik secara berurutan.

Skema Pertahanan Berlapis: Dari Deteksi hingga Hard-Kill

Doktrin yang diuji mengikuti alur pertahanan tiga lapis yang terstruktur. Lapisan pertama adalah deteksi dan klasifikasi. Radar pengawas udara SMART-S Mk2 dioperasikan dengan mode Doppler khusus untuk melacak dan mengidentifikasi ancaman drone berukuran kecil yang memiliki radar cross-section (RCS) minimal. Data dari radar ini kemudian diproses di Combat Information Centre (CIC) untuk membangun gambar situasional dan menentukan prioritas ancaman.

Lapisan kedua adalah tindakan soft-kill atau netralisasi non-kinetik. Sistem perang elektronik Thales Vigile LW diaktifkan untuk melakukan jamming terhadap dua elemen krusial drone: frekuensi kontrol dan sinyal GPS. Prosedur standarnya adalah:

  • Mengganggu Link Komando: Upaya pertama adalah memutus komunikasi antara operator dan drone swarm untuk mengacaukan formasi dan perintah.
  • Mengacaukan Navigasi: Jika langkah pertama kurang efektif, sistem akan mengganggu sinyal GPS untuk menyesatkan navigasi drone.
  • Menggunakan Umpan (Decoy): Sebagai lapisan akhir soft-kill, sistem akan meluncurkan decoy Corvus Chaff untuk mengelabui sensor pencari pada drone yang dipandu secara mandiri.

Prosedur Hard-Kill: Alokasi Target dan Mode Tembak Otomatis

Jika drone swarm berhasil menerobos dua lapisan pertahanan awal dan memasuki jarak 2 kilometer, lapisan ketiga atau hard-kill diaktifkan. Pada fase ini, taktik angkatan laut mengedepankan penggunaan senjata yang tepat berdasarkan jarak dan kerapatan ancaman. Meriam utama Bofors 57 mm digunakan dalam mode fully-automatic dengan amunisi programmable airburst. Amunisi ini dapat diprogram untuk meledak di dekat sekelompok target, meningkatkan probabilitas hancur (PK) terhadap beberapa drone sekaligus.

Untuk ancaman yang sudah sangat dekat (di bawah 1 km), sistem pertahanan titik akhir diambil alih oleh Close-In Weapon System (CIWS). Rheinmetall Millennium 35 mm pada KRI Bung Tomo dikonfigurasi pada mode 'Auto-kill'. Radar pengendali tembakan (TRS) pada sistem ini secara otomatis akan:

  • Melacak semua target yang masuk.
  • Menganalisis dan memberi peringkat ancaman berdasarkan parameter seperti kecepatan, jarak, dan lintasan (highest threat priority).
  • Mengalokasikan target ke masing-masing laras meriam secara otomatis untuk dinetralisir.
Mode ini memungkinkan respons yang sangat cepat terhadap serangan massal di jarak sangat dekat.

Simulasi ini memberikan pelajaran taktis yang berharga tentang pentingnya integrasi sistem dan doktrin yang jelas. Keberhasilan pertahanan udara terhadap drone swarm tidak bergantung pada satu sistem senjata tunggal, seperti CIWS, melainkan pada rantai pertahanan yang utuh—dimulai dari deteksi dini, dilanjutkan dengan upaya mengacaukan secara elektronik, dan baru kemudian penghancuran fisik. Pendekatan layered defense ini memaksimalkan peluang untuk menetralisir ancaman sedini mungkin, jauh sebelum ancaman tersebut mencapai kapal, yang merupakan prinsip dasar dari engage-on-remote dalam peperangan laut modern.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: KRI Bung Tomo, Thales Vigile LW, Bofors, Rheinmetall Millennium
Lokasi: Laut Jawa