Komando Pasukan Katak (Kopaska) Koarmada II baru saja menyelesaikan Latihan Pasukan Khusus (Latpassu) TA 2026, sebuah gladi operasi kontra-terorisme tingkat tinggi yang dirancang ketat. Latihan selama 14 hari di Lanudal Juanda ini fokus pada pengasahan SOP untuk mengamankan infrastruktur vital, dengan inti taktis menguasai tiga elemen kunci: infiltrasi diam-diam, pengintaian mendalam, dan penyerangan presisi dalam lingkungan tertutup atau CQB. Kompleksitas area bandara seperti Lanudal Juanda dipilih sebagai medan latihan karena merepresentasikan zona rawan dengan kombinasi area terbuka luas dan struktur bangunan yang kompleks, menambah dimensi realistik yang menantang bagi setiap prajurit.
Tahap Infiltrasi: Menyusup ke Perimeter Lanudal Juanda dengan Profil Rendah
Fase pembuka dalam Latpassu ini adalah infiltrasi diam-diam ke dalam area Lanudal Juanda tanpa memicu deteksi. Untuk mencapai ini, tim Kopaska berlatih dengan dua metode utama yang disesuaikan dengan ancaman dan kondisi geografis. Setiap metode memiliki prosedur operasi standar yang kaku untuk memastikan keselamatan dan efektivitas penyusupan.
- Infiltrasi Laut: Dilakukan menggunakan kendaraan khusus berkecepatan tinggi dengan profil rendah. Kendaraan ini mendekati garis pantai dalam kondisi senyap, memanfaatkan gelapnya malam dan kontur pantai untuk menyamarkan keberadaan tim sebelum mereka mendarat dan bergerak menuju titik kumpul awal di dalam perimeter.
- Infiltrasi Udara: Merupakan teknik yang lebih kompleks, melibatkan penerjunan dengan teknik HALO (High Altitude Low Opening) dan HAHO (High Altitude High Opening). Dalam prosedur ini, prajurit diterjunkan dari pesawat dari jarak dan ketinggian ekstrem, kemudian terbang secara diam-diam menggunakan parasut sayap ke titik pendaratan yang telah ditentukan di dalam kawasan bandara. Teknik ini secara khusus dirancang untuk menghindari deteksi radar dan pengamatan visual musuh.
Setelah berhasil memasuki zona target, tahap krusial berikutnya adalah Pengintaian Mendalam. Tim melakukan survei secara stealth untuk mengumpulkan data intelijen taktis yang vital. Aktivitas ini mencakup pemetaan posisi dan jumlah musuh simulasi, identifikasi pola patroli, pencatatan titik masuk kritis ke bangunan atau pesawat target, serta konfirmasi lokasi sandera. Operasi pengintaian ini sangat bergantung pada peralatan khusus, seperti kacamata penglihatan malam (NVG) untuk operasi dalam kondisi gelap, senjata yang dilengkapi peredam suara (suppressor) untuk menghindari peringatan dini, dan sistem komunikasi terenkripsi untuk menjaga kerahasiaan absolut pergerakan tim.
Fase Penyerangan Presisi: Aplikasi Doktrin CQB dalam Pembebasan Sandera
Inti dari skenario Latpassu ini adalah fase penyerangan utama, yang mensimulasikan operasi pembebasan sandera di dalam pesawat udara yang telah diduduki oleh teroris. Operasi ini merupakan aplikasi murni dan ketat dari taktik Close Quarters Battle (CQB), di mana kecepatan, kejutan, dan akurasi mematikan adalah kunci keberhasilan di ruang terbatas. Tahapan pelaksanaannya mengikuti urutan standar yang telah dilatih berulang kali untuk membentuk refleks otot (muscle memory) pada setiap personel pasukan khusus.
- Breaching (Pembobosan): Tim penyerang melakukan akses cepat dan agresif ke dalam badan pesawat. Metode pembobosan dapat bervariasi, mulai dari breaching mekanis menggunakan alat pendobrak, hingga breaching eksplosif terkendali yang digunakan untuk membuka akses melalui pintu atau bagian lambung pesawat dengan aman dan presisi, meminimalkan risiko cedera pada sandera di dalam.
- Room Clearing (Pembersihan Ruangan): Segera setelah akses terbuka, tim bergerak masuk dalam formasi yang telah ditentukan, biasanya formasi 'stack' atau 'line'. Setiap anggota tim memiliki sektor tembak dan area tanggung jawab yang jelas. Mereka secara sistematis membersihkan setiap bagian interior pesawat—lorong, kabin, kokpit—dengan gerakan terkoordinasi untuk menetralisir ancaman dengan cepat dan mengamankan sandera.
Keberhasilan fase penyerangan ini sangat bergantung pada timing yang sempurna, koordinasi komunikasi yang tanpa celah di antara anggota tim, serta penguasaan penuh terhadap perangkat tempur individu. Latihan seperti Latpassu di Lanudal Juanda berfungsi untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus melatih ketahanan mental dan pengambilan keputusan di bawah tekanan tinggi, mensimulasikan kondisi nyata yang mungkin dihadapi dalam operasi sesungguhnya.
Dari latihan latpassu ini, terdapat pelajaran taktis yang jelas: keberhasilan operasi kontra-terorisme di infrastruktur kompleks seperti bandara tidak bergantung pada keberanian semata, tetapi pada eksekusi prosedur yang disiplin, mulai dari penyusupan tanpa jejak, pengumpulan intel yang akurat, hingga pelaksanaan serangan final yang cepat dan presisi. Pengulangan skenario realistis di lingkungan seperti Lanudal Juanda memastikan bahwa setiap prosedur telah terinternalisasi, sehingga ketika situasi sesungguhnya terjadi, reaksi tim Kopaska akan otomatis, terukur, dan efektif.