Latihan Bersama Malindo Jaya 28AB/26 memasuki fase laut dengan agenda taktis yang padat, menampilkan dua pasukan khusus laut terbaik Asia Tenggara: Kopaska Koarmada II TNI AL dan PASKAL Malaysia. Esensi latihan ini adalah pengasaham interoperabilitas dalam prosedur operasi khusus maritim tingkat tinggi, khususnya dalam dua domain kunci: manuver kapal perang terkoordinasi dan boarding exercise kompleks.
Penyergapan dan Penyisiran Kapal: Tahapan Taktis VBSS
Inti dari latihan taktik VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure) adalah penyergapan dan penyisiran kapal target yang dikendalikan ancaman (simulasi teroris atau pembajak). Prosedur ini dijalankan dengan metode terstandarisasi untuk memastikan keamanan tim dan efektivitas misi. Berikut adalah tahapan taktis yang dijalankan Kopaska dan PASKAL secara berurutan:
- Fase Pengintaian dan Pendekatan: Menggunakan aset pengintai, tim mengidentifikasi target, kondisi kapal, dan pergerakan ancaman. Ini menjadi dasar perencanaan pendekatan.
- Fase Infiltrasi: Tim assault melakukan pendekatan secara siluman ke kapal target. Modus transportasi utama adalah kapal cepat tipe Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) untuk pendekatan permukaan. Skenario lain melibatkan teknik helocasting (terjun dari helikopter di dekat target) untuk infil surprise dari udara.
- Fase Pengaitan dan Naik Kapal: Setelah RHIB mendekati lambung kapal target, dilakukan hooking (pengaitan) menggunakan tangga kait atau peralatan khusus. Tim segera naik ke geladak dengan formasi aman untuk mengamankan point of entry.
- Fase Penyisiran dan Netralisasi: Ini adalah jantung boarding exercise. Tim bergerak dalam formasi yang ditentukan, menyisir kapal deck per deck, ruang per ruang. Komunikasi menggunakan sinyal tangan standar untuk meminimalkan suara dan mencegah friendly fire. Setiap sudut (corner) dibersihkan dengan prosedur slicing the pie untuk memastikan area aman sebelum bergerak maju.
Koordinasi Armada: Screen Exercise dan Gunnery Exercise
Di luar taktik operasi khusus individu, latihan menguji kemampuan interoperabilitas tingkat armada. Unsur permukaan kedua negara, yaitu KRI Sultan Iskandar Muda-367 dan KRI Tombak-629 (Indonesia) serta KD Rencong dan KD Selangor (Malaysia), melakukan manuver terkoordinasi. Dua formasi latihan utama yang dijalankan adalah:
- Screen Exercise (Screenex): Formasi ini dirancang untuk melindungi kapal utama (biasanya kapal bernilai tinggi) dari ancaman udara, permukaan, atau bawah air. Kapal-kapal pengawal membentuk layar pertahanan di sekeliling kapal utama, mengatur posisi berdasarkan radar dan ancaman yang dihadapi. Manuver ini mengasah kemampuan komando dan kontrol bersama dalam membentuk zona pertahanan yang rapat.
- Gunnery Exercise (Gunnex): Latihan ini melibatkan penembakan meriam terhadap target udara atau permukaan. Prosedur standar mencakup akuisisi target, perhitungan tembakan, koordinasi antara kapal untuk menghindari konflik di udara, dan eksekusi tembakan. Latihan manuver kapal ini menguji kemampuan kru meriam dan koordinasi antar kapal dalam lingkungan pertempuran simulasi.
Dukungan udara diintegrasikan melalui helikopter Bell HU-4205 Puspenerbal. Helikopter ini berperan dalam vertical replenishment (vertrep) atau pengiriman logistik dari kapal ke kapal via udara, serta casualty evacuation (CASEVAC) untuk evakuasi medis cepat. Integrasi multidomain ini menyempurnakan gambaran latihan perang modern, di mana laut, udara, dan pasukan khusus harus beroperasi sebagai satu kesatuan yang mulus.
Secara taktis, latihan ini mengajarkan pentingnya prosedur baku dan bahasa operasi yang sama dalam kerja sama internasional. Keberhasilan sebuah misi VBSS bergantung pada disiplin tim dalam menjalankan setiap fase, mulai dari infil hingga penyisiran, dimana kesalahan komunikasi dapat berakibat fatal. Sementara itu, latihan armada seperti screenex dan gunnex menunjukkan bahwa kekuatan laut tidak hanya tentang teknologi kapal, tetapi juga kemampuan untuk bermanuver dan menembak secara harmonis dalam sebuah satuan tugas gabungan. Nilai latihan seperti ini bagi Kopaska dan PASKAL adalah pembentukan shared mental model — pemahaman bersama yang memungkinkan kedua pasukan elite ini dapat digabungkan dalam operasi nyata di masa depan dengan efektivitas maksimal.