Latihan Kodaeral VI 2026 mensimulasikan salah satu tantangan taktis paling kompleks dalam operasi modern: transisi taktis lintas domain dari laut ke darat di bawah ancaman yang berkembang. Fokus latihan ini bukan hanya pada penguasaan tiga elemen operasional—VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure), Hanlan (Pertahanan Pangkalan), dan Dakhura (Penindakan Huru-Hara)—tetapi pada pengujian kemampuan satuan untuk beralih prosedur, komando, dan pola pikir di tengah tekanan waktu dan dinamika ancaman yang berubah secara drastis antara lingkungan maritim terbuka dan medan darat tetap.
Bedah Operasi VBSS: Doktrin Pengambilalihan Kapal Secara Presisi
Operasi VBSS adalah prosedur taktis berisiko tinggi untuk menguasai kapal yang diduga terlibat aktivitas ilegal atau ancaman keamanan. Keberhasilannya bergantung pada eksekusi yang cepat, presisi, dan mematikan elemen kejutan. Tahapannya dijalankan sebagai urutan instruksional yang ketat dan berurutan:
- Fase Pendekatan dan Pengaitaman (Boarding): Tim mendekati kapal target menggunakan Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) dengan sudut yang meminimalkan profil radar dan visual. Pengaitaman dilakukan dengan dua teknik utama: lemparan tangga kait untuk pendakian cepat atau penggunaan tangga khusus yang dikaitkan ke geladak. Pergerakan eksplosif untuk mengamankan titik pijak pertama di geladak harus diselesaikan sebelum kru target dapat melakukan koordinasi perlawanan.
- Fase Penyisiran dan Pengamanan (Clearing and Securing): Setelah geladak diamankan, tim bergerak dalam formasi yang telah dilatih untuk melakukan room-by-room clearing. Fase ini menguji penerapan use of force continuum dan prosedur pencarian bukti atau persons of interest secara sistematis di dalam ruang terbatas dan kompleks milik kapal.
Operasi VBSS menjadi landasan awal sebelum satuan melakukan transisi operasional yang lebih berat ke medan darat.
Transisi Taktis: Dari Penguasaan Laut ke Pertahanan & Pengendalian Darat
Setelah berhasil menguasai platform maritim, satuan harus beralih mindset dan prosedur untuk mengamankan aset tetap di darat. Transisi ini menguji perubahan dari operasi ofensif cepat (VBSS) ke operasi defensif statis dan kemudian ke pengendalian kerumunan dinamis.
Materi pertama di darat adalah Pertahanan Pangkalan (Hanlan), yang berfokus pada pembangunan sistem keamanan berlapis dan terkoordinasi. Prosedur standarnya berjalan secara berurutan:
- Pertama, pembentukan Pos Pengamatan (Observation Post/OP) dan Pos Komando (Command Post/CP) di lokasi strategis untuk memastikan pengawasan 360 derajat dan komunikasi yang efektif.
- Kedua, penyiapan titik-titik penyekat (blocking positions) dan penentuan rute patroli perimeter, baik secara dismounted (berjalan kaki) maupun mounted (menggunakan kendaraan).
- Ketiga, penerapan Aturan Penembakan (Rules of Engagement/RoE) yang spesifik untuk area pangkalan, yang menjadi elemen kritis untuk mengatur respons hukum-militer terhadap setiap upaya infiltrasi atau pelanggaran perimeter.
Skenario kemudian meningkat dengan materi Penindakan Huru-Hara (Dakhura). Fase ini menguji kemampuan satuan dalam mengendalikan massa menggunakan taktik, formasi khusus, dan alat non-mematikan secara efektif. Dua formasi inti yang dilatih adalah:
- Formasi Garis: Digunakan untuk membentuk barikade fisik yang solid, membatasi ruang gerak massa dari satu arah, dan menahan tekanan frontal. Formasi ini efektif untuk mengamankan garis batas atau fasilitas.
- Formasi Baji: Dirancang untuk melakukan penetrasi terkendali dan sistematis ke dalam kerumunan. Tujuannya adalah membuka koridor evakuasi, memisahkan kelompok-kelompok yang bentrok, atau mengisolasi aktor penggerak dari massa.
Selain penguasaan formasi, penindakan yang berhasil sangat bergantung pada koordinasi komunikasi yang solid antara komandan lapangan, unit pendukung, dan petugas intelijen yang memantau situasi.
Latihan Kodaeral VI 2026 memberikan pelajaran taktis yang jelas: sukses dalam konflik multidomain tidak lagi hanya tentang menguasai satu prosedur. Kunci utamanya adalah fleksibilitas prosedural—kemampuan satuan untuk secara dinamis beralih dari logika operasi serangan cepat di laut (VBSS), ke logika pertahanan statis berlapis (Hanlan), lalu ke logika pengendalian dan manajemen massa dinamis (Dakhura). Pengujian transisi inilah yang mempersiapkan satuan untuk menghadapi skenario dunia nyata di mana ancaman berkembang secara tak terduga dan lintas domain.