Kementerian Pertahanan baru saja merilis doktrin pertahanan rakyat semesta (PRS) sebagai pengembangan dari sistem pertahanan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). Doktrin ini langsung menyasar pada pola menghadapi ancaman asimetris dengan mengaktifkan partisipasi masyarakat dalam tiga lapisan pertahanan. Konsepnya bukan sekadar siaga, melainkan sebuah prosedur taktis yang terstruktur: garis depan diisi TNI, garis tengah oleh Satuan Keamanan Rakyat (Satkamra), dan garis belakang oleh relawan sipil. Setiap lapisan memiliki peran dan metode perlawanan yang berbeda, mulai dari kontak langsung hingga dukungan logistik dan intelijen.
Skema Tiga Lapisan dan Taktik Gerilya Terpadu
Dalam implementasi PRS, pengelompokan lapisan pertahanan bukanlah sekadar pembagian wilayah, melainkan sebuah sistem komando terdesentralisasi. Berikut tahapan taktis yang diajarkan dalam doktrin ini:
- Garis Depan (TNI): Melaksanakan operasi militer konvensional dan penghentian awal serangan. Mereka menjadi pembuka ruang bagi lapisan berikutnya untuk bergerak.
- Garis Tengah (Satkamra): Bertugas sebagai pengendali wilayah, melakukan penyergapan, dan mengatur pergerakan musuh agar tidak leluasa. Satkamra mendapat pelatihan khusus dalam pembuatan ranjau darat improvisasi dan teknik penyergapan di medan perkotaan.
- Garis Belakang (Relawan Sipil): Menyediakan dukungan logistik mandiri menggunakan sumber daya lokal, membangun sel-sel perlawanan di setiap desa, dan menjalankan prosedur evakuasi serta penyembunyian.
Setiap provinsi akan memiliki pusat pelatihan PRS yang mengajarkan teknik pembuatan terowongan bawah tanah sebagai tempat persembunyian dan jalur logistik. Ini adalah adaptasi dari taktik tunnel warfare yang pernah terbukti efektif di medan Asia Tenggara.
Sistem Komunikasi Terdesentralisasi dan Logistik Mandiri
Salah satu keunggulan pertahanan rakyat semesta adalah kemampuan bertahan tanpa bergantung pada rantai pasok pusat. Doktrin ini menekankan:
- Sistem komunikasi terdesentralisasi menggunakan radio, kurir, dan sinyal visual yang tidak mudah dilumpuhkan oleh serangan elektronik musuh. Setiap desa memiliki sel komunikasi yang dapat menyebarkan informasi secara berantai.
- Logistik mandiri berbasis sumber daya lokal: cadangan pangan, air, dan bahan bakar disimpan di titik-titik aman yang hanya diketahui oleh komandan sel. Prosedur evakuasi dan logistik ini diajarkan secara detail di pusat pelatihan.
- Sel-sel perlawanan desa dibentuk dengan struktur sel kecil (3-5 orang) agar sulit diungkap jika satu sel tertangkap. Setiap sel memiliki tugas spesifik: intelijen, sabotase, atau dukungan medis.
Pelaksanaan uji coba doktrin akan dimulai di Maluku dan Papua pada Januari 2027. Kedua provinsi dipilih karena medan yang beragam—hutan, pegunungan, dan pesisir—sekaligus potensi ancaman asimetris dari kelompok separatis atau infiltrasi asing.
Analisis taktis: Doktrin PRS mengajarkan bahwa ancaman asimetris tidak bisa dihadapi hanya dengan kekuatan konvensional. Kunci keberhasilan justru terletak pada desentralisasi dan kemandirian unit-unit kecil. Dengan mengubah setiap desa menjadi benteng pertahanan yang siap tempur, musuh akan menghadapi perang berlarut yang menguras sumber daya. Inilah pelajaran taktis utama: pertahanan rakyat semesta bukan sekadar doktrin, melainkan budaya perlawanan yang terstruktur.