Operasi Anti-Submarine Warfare (ASW) di perairan sibuk seperti Selat Malaka menuntut koordinasi dan doktrin taktis yang presisi. Latihan TNI AL yang melibatkan KRI Usman-Harun dan KRI Bung Tomo adalah demonstrasi prosedural yang baik, dimulai dari fase deteksi hingga fase serangan dan disengagement. Untuk membedah taktik ini, kita akan mengikuti alur operasi standar yang mereka terapkan, dari momen sonar pertama mendapatkan kontak hingga manuver menghindar setelah peluncuran torpedo latih.
Fase 1: Deteksi dan Penjejakan Menggunakan Konsep Ping-and-Kill
Pertempuran bawah laut dimulai dengan pencarian dan pengepungan. Dalam latihan ini, deteksi dilakukan dengan memanfaatkan multi-sensor sonar untuk meningkatkan probabilitas kontak. Tahapan deteksi dijelaskan dalam prosedur berikut:
- Sonar Aktif Hull-Mounted: Digunakan untuk 'menyapu' area secara aktif dengan memancarkan pulse akustik (ping). Kelebihan: memberikan jarak dan bearing target yang cepat. Kelemahan: mengungkapkan posisi kapal itu sendiri.
- Sonar Pasif Hull & Towed Array Sonar (TAS): Digunakan untuk mendengarkan secara diam-diam. TAS, yang ditarak ratusan meter di belakang kapal, sangat sensitif untuk mendeteksi noise dari baling-baling atau mesin kapal selam dari jarak jauh, sekaligus mengurangi interferensi noise dari kapal penariknya sendiri.
- Penguatan Grid dengan Sonobuoy: Helikopter ASW yang diluncurkan menjatuhkan sonobuoy dalam pola grid tertentu, menciptakan jaringan sensor akustik untuk mempersempit area pencarian dan melacak pergerakan target.
Fase 2: Manuver Penyerangan dengan Taktik Hammer and Anvil
Doktrin 'hammer and anvil' (palu dan landasan) diterapkan untuk memerangkap target. Konsep ini analog dengan memukul benda (kapal selam) di antara palu dan landasan. Dalam simulasi ini:
- Anvil (Landasan): KRI Usman-Harun, sebagai ping ship, berperan sebagai anvil. Dengan terus-menerus memancarkan ping dan melakukan manuver, kapal ini secara taktis 'mengarahkan' atau membatasi ruang gerak kapal selam musuh.
- Hammer (Palu): KRI Bung Tomo, yang telah bergerak ke posisi flank atau posisi menghadap, berperan sebagai hammer. Dari posisi diam dan senyap ini, ia menunggu momen saat target terdorong atau bergerak ke dalam zona jangkauan tembak efektifnya.
Setelah serangan diluncurkan, fase berikutnya yang krusial adalah disengagement. Kapal penyerang dan kapal pendeteksi harus segera meninggalkan area untuk menghindari serangan balik. Kedua KRI langsung melakukan manuver evasif berkecepatan tinggi untuk keluar dari perkiraan jalur torpedo balasan. Secara bersamaan, mereka mengeluarkan decoy akustik atau torpedo countermeasures. Decoy ini berfungsi untuk menipu pencari akustik torpedo musuh dengan memancarkan noise atau menciptakan target umpan, sehingga melindungi kapal-kapal tersebut.
Latihan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi sebuah simulasi taktis yang kaya pelajaran. Penggunaan kombinasi 'ping ship' dan 'stalker/killer ship' menunjukkan pemahaman akan pentingnya pembagian peran dan kerja sama tim dalam peperangan anti-kapal selam. Taktik hammer and anvil efektif di perairan relatif sempit seperti selat, karena membatasi ruang manuver kapal selam. Yang juga patut dicatat adalah integrasi platform udara (helikopter ASW) dan platform laut, yang memperluas cakupan sensor dan menciptakan tekanan multidimensi bagi pihak lawan. Pelajaran utama: keunggulan dalam ASW modern tidak hanya terletak pada teknologi sonar, tetapi pada kemampuan menyinkronkan data dari berbagai sensor dan melaksanakan doktrin koordinasi dengan tepat waktu.