Latihan Search and Rescue (SAR) kapal selam bukan sekadar latihan rutin; ini adalah ujian nyata bagi prosedur penyelamatan TNI AL untuk mengevakuasi awak kapal selam yang mengalami kegagalan permukaan (disabled submarine/DISSUB) di kedalaman operasional. Simulasi di Perairan Banyuwangi mengetes alur komando, respons teknis, dan koordinasi antar-unit mulai dari deteksi sinyal darurat hingga evakuasi aman awak ke fasilitas medis. Keberhasilan operasi bergantung pada integrasi ketat antara sistem pelacakan, kendaraan penyelamat dalam, dan protokol dekompresi medis.
Fase Deteksi dan Mobilisasi Awal: Dari Sinyal Darurat ke Penempatan SRV
Prosedur penyelamatan dimulai segera setelah kapal selam gagal melakukan permukaan dan berada dalam kondisi DISSUB. Awak akan mengaktifkan buoy komunikasi darurat yang secara otomatis terlepas dari lambung kapal selam. Perangkat ini memiliki fungsi krusial:
- Mengirimkan sinyal SOS dan identifikasi kapal selam ke pusat komando TNI AL.
- Memancarkan koordinat GPS posisi kapal selam yang terdampar secara real-time.
- Berfungsi sebagai penanda fisik (surface marker) bagi kapal penyelamat di lokasi kejadian.
Setelah sinyal terkonfirmasi di Pusat Komando, kapal penyelamat kapal selam (Submarine Rescue Vessel/SRV) segera diberangkatkan dengan status siaga satu. Kapal ini membawa dua sistem utama: Deep Submergence Rescue Vehicle (DSRV) – kendaraan penyelamat dalam berawak, dan kompleks ruang dekompresi (decompression chambers) yang terintegrasi di geladak. Waktu respons (response time) dari konfirmasi sinyal hingga SRV tiba di zona operasi menjadi parameter kritis yang terus dipantau.
Fase Penyatuan dan Evakuasi: Docking DSRV dan Transfer Awak
Setelah tiba di lokasi yang ditandai buoy, operasi penyelamatan masuk ke fase teknis paling kompleks. DSRV, yang dibawa oleh SRV, akan diluncurkan untuk melakukan penyatuan (docking) dengan lubang pelarian (escape hatch) kapal selam yang terdampar. Asumsi latihan menempatkan kapal selam pada kedalaman 100 meter, yang merupakan kedalaman operasi standar untuk sistem DSRV modern. Prosedur docking harus dilakukan dengan presisi tinggi:
- Pendekatan (Approach): DSRV bergerak dengan kecepatan sangat rendah (di bawah 1 knot) menuju posisi escape hatch yang telah diidentifikasi melalui sonar dan panduan visual.
- Penyelarasan (Alignment): Operator DSRV harus menyelaraskan collar penyegel (seal skirt) pada DSRV dengan flange di sekitar escape hatch kapal selam. Toleransi kesalahan sangat minimal.
- Penyegelan dan Pengosongan Air (Sealing & De-watering): Setelah kontak, collar disegel dan air di ruang antar-muka (interface) dipompa keluar, menciptakan sambungan kedap air antara kedua kendaraan.
Setelah penyegelan sempurna dan tekanan disamakan, pintu antara DSRV dan kapal selam dapat dibuka. Evakuasi awak dilakukan secara bertahap. Awak yang dievakuasi akan langsung memasuki DSRV, yang kemudian melepaskan diri dan naik ke permukaan untuk bertransfer ke SRV. Di geladak SRV, awak segera dipindahkan ke ruang dekompresi untuk menjalani proses stabilisasi tekanan secara terkontrol, mencegah risiko penyakit dekompresi (DCS).
Protokol medis selama fase ini sama pentingnya dengan prosedur penyelamatan teknis. Setiap awak dipantau tanda vitalnya, dan durasi dekompresi dihitung berdasarkan kedalaman dan waktu paparan. Latihan ini mensimulasikan skenario penuh, termasuk penanganan awak yang mengalami trauma atau hipotermia. Koordinasi antara kru DSRV, tim medis di SRV, dan pusat dukungan di darat berjalan melalui jaringan komunikasi yang aman dan terdokumentasi.
Dari latihan ini, poin taktis utama yang dapat dipetik adalah bahwa prosedur penyelamatan kapal selam adalah sebuah sistem berantai yang rapuh. Keberhasilannya bergantung pada keandalan setiap mata rantai: dari buoy komunikasi yang berfungsi, ketepatan navigasi dan docking DSRV di kondisi laut yang dinamis, hingga efisiensi logistik dan medis di permukaan. Pelatihan berulang seperti ini bukan hanya untuk menjaga kemampuan, tetapi juga untuk mengidentifikasi celah (gap) dalam prosedur standar operasi (SOP) dan meningkatkan waktu respons keseluruhan, yang dalam situasi nyata adalah faktor penentu antara hidup dan mati.