Dalam doktrin serangan udara terpadu TNI AU, Air Force Terminal Attack Controller (AFTAC) menjadi simpul kritis yang menghubungkan pasukan darat dengan pesawat tempur di medan pertempuran. Peran ini tidak sekadar memanggil bom jatuh, melainkan mengorkestrasi aliran data, koordinat, dan keputusan taktis secara real-time. Prosedurnya dimulai ketika unit darat yang sedang kontak tembak (troops in contact) meminta dukungan udara melalui Joint Tactical Air Controller (JTAC) atau AFTAC yang menyertainya. Dari sinilah rangkaian panjang koordinasi dari darat ke udara bergulir.
Alur Koordinasi: Dari Darat ke Udara
Setelah permintaan diterima, AFTAC mengirimkan 9-line brief ke Air Support Operations Center (ASOC) yang bertugas mengalokasikan pesawat serang seperti F-16 atau Su-30. Saat pesawat sudah memasuki zona sasaran (target area), AFTAC menjalin komunikasi langsung pada frekuensi yang ditentukan. Di sinilah setiap titik koordinat dan instruksi menjadi penentu keberhasilan misi:
- Initial Point (IP) – titik awal acuan approach pesawat
- Heading – arah terbang menuju target
- Distance – jarak dari IP ke target
- Elevation – ketinggian target dalam feet atau meter
- Target Description – deskripsi visual dan jenis sasaran
- Target Location – koordinat MGRS yang presisi
- Type Mark – cara penandaan sasaran (laser atau smoke)
- Friendlies Location – posisi pasukan sendiri untuk hindari friendly fire
- Egress Direction – arah keluar pesawat setelah serangan
Untuk memandu pesawat, AFTAC dapat 'menerangi' sasaran menggunakan laser designator (lasing) atau menembakkan smoke marking round agar identifikasi visual lebih mudah.
Tahap Eksekusi: Izin Tembak dan BDA
Fase paling kritis adalah saat AFTAC memberikan clearance for hot — izin menembak yang hanya diberikan setelah pilot memastikan sasaran benar dan posisi pasukan sendiri aman. Standar komunikasi yang ketat menjadi syarat mutlak untuk mencegah friendly fire. Setelah serangan dilepaskan, AFTAC segera melaporkan Battle Damage Assessment (BDA) kepada ASOC dan unit darat. Jika diperlukan, ia juga mengoordinasikan re-attack atau target shift bila sasaran awal belum hancur atau berubah.
Doktrin ini menekankan bahwa integrasi serangan udara ke dalam manuver darat harus berjalan real-time. Koordinasi yang erat antara AFTAC, pilot, dan komandan darat memungkinkan respons cepat terhadap perkembangan taktis di lapangan. Prosedur 9-line brief bukan sekadar format laporan, melainkan bahasa taktis yang menyatukan dua dimensi pertempuran: udara dan darat.
Pelajaran Taktis: Keberhasilan Close Air Support (CAS) sangat bergantung pada standarisasi prosedur dan kedisiplinan komunikasi. AFTAC bukan hanya pengamat, melainkan pengendali yang memastikan setiap serangan tepat sasaran tanpa mengorbankan pasukan sendiri. Doktrin serangan udara terpadu mengajarkan bahwa koordinasi adalah senjata paling ampuh — lebih dari sekadar bom dan rudal.