Latihan Bhineka Eka Dharma baru-baru ini menjadi wahana unjuk taktik Brigade Infanteri 2/Marinir TNI AL, yang dengan presisi tinggi mendemonstrasikan transisi mulus dari postur bertahan (defensif) ke serangan balik (ofensif) dalam satu paket manuver terpadu. Inti dari latihan ini adalah simulasi bagaimana sebuah satuan infanteri besar dapat mengalihkan momentum tempur melalui koordinasi elemen-elemen tempurnya secara hierarkis, mulai dari tingkat batalyon hingga regu.
Pondasi Bertahan: Membangun Pertahanan Berlapis Sebelum Melancarkan Serangan Balik
Fase operasi dibuka dengan pembentukan posisi defensif yang kokoh, sebuah prasyarat taktis sebelum melancarkan gempur balik. Kompi A, yang ditugaskan sebagai pasukan penahan, menempati posisi kunci di dataran tinggi. Mereka tidak membangun satu garis pertahanan statis, melainkan tiga garis bertahan berlapis (layer defense) yang strategis. Doktrin ini dirancang untuk menguras dan memperlambat serangan lawan. Prosedur pembangunannya melibatkan:
- Penyiapan Garis Pertahanan: Tiga garis diatur dengan jarak antar garis 200-300 meter, memberikan ruang untuk mundur teratur dan mempersiapkan serangan balik.
- Penguatan Titik Tembak: Setiap titik tembak diposisikan agar saling tumpang-tindih (overlapping fields of fire), memastikan tidak ada sektor kosong yang dapat dieksploitasi lawan.
- Pemasangan Ranjau Peringatan: Ranjau dipasang di depan garis terdepan sebagai sistem peringatan dini dan penghambat pergerakan musuh.
Konfigurasi ini menciptakan zona pembunuhan (kill zone) yang efektif sekaligus menyediakan fondasi yang stabil untuk transisi taktis selanjutnya.
Pergeseran Momentum: Skema Serangan Balik Tiga Elemen
Transisi dari defensif ke ofensif dimulai saat intelijen lapangan melaporkan tekanan musuh mulai melemah. Komandan Batalion kemudian menginisiasi serangan balik (counterattack) dengan membagi pasukan menjadi tiga elemen fungsional yang bergerak secara simultan dan terkoordinasi. Ini adalah esensi dari manuver ofensif skala besar.
- Elemen Pengikat (Fixing Element): Diambil dari Kompi B, elemen ini bertugas melakukan tembakan supresif intensif dari jarak sekitar 400 meter. Tujuannya adalah untuk mengunci (fix) perhatian dan pasukan lawan di tempat, mencegah mereka bergerak atau mengalihkan sumber daya.
- Elemen Manuver (Maneuver Element): Kompi A, yang sebelumnya bertahan, kini bertransformasi menjadi ujung tombak serangan. Mereka melakukan gerakan cepat melalui sayap kiri (flanking maneuver) dengan mengerahkan kendaraan tempur Panser 6x6 (P6). Manuver sayap ini bertujuan menyerang titik lemah atau sisi lawan yang tidak terlindungi.
- Elemen Pendukung (Supporting Element): Satuan mortir 81mm memberikan dukungan tembakan tidak langsung dengan melaksanakan tembakan penghalang (barrage fire). Tembakan ini dijatuhkan tepat di belakang garis pertahanan lawan, berfungsi untuk mengisolasi garis depan musuh dari bala bantuan atau suplai, sekaligus menciptakan gangguan dan kerusakan moral.
Koordinasi ketiga elemen ini—pengikat, manuver, dan pendukung—merupakan contoh klasik taktik kombat arms yang terintegrasi.
Puncak dari rangkaian latihan ini adalah fase perebutan dan pembersihan wilayah (area clearance). Pada fase ini, taktik diturunkan ke tingkat taktis yang lebih mikro: tingkat peleton dan regu. Mereka menerapkan doktrin tembak dan gerak (fire and movement), di mana sebagian pasukan memberikan covering fire sementara yang lain bergerak maju, lalu berganti peran. Setiap regu bergerak dalam formasi baji (wedge formation), yang optimal untuk pengamatan dan daya tembak ke segala arah di medan terbuka. Dalam formasi ini:
- Penembak mitraliur (senapan mesin) berada di posisi tengah/belakang, memberikan daya tembok utama dan supresif berkelanjutan.
- Dua penembak jitu (sniper) ditugaskan mengamankan kedua sayap formasi, bertugas menetralisir ancaman titik seperti penembak musuh atau pengintai.
- Anggota regu lainnya bergerak di depan dan samping baji, dengan sektor tembak yang telah ditentukan.
Seluruh rangkaian ini juga dijadikan arena uji Tactical Decision Game (TDG) bagi komandan kompi. Mereka dilatih untuk membuat keputusan cepat berdasarkan informasi yang tidak lengkap dan situasi yang dinamis, menguji kemampuan adaptasi dan pemikiran taktis di bawah tekanan.
Secara taktis, latihan Bhineka Eka Dharma ini menegaskan prinsip bahwa pertahanan yang baik bukanlah tujuan akhir, melainkan batu loncatan untuk ofensif yang menentukan. Kunci keberhasilannya terletak pada disiplin dalam membangun fondasi defensif yang solid, kemampuan intelijen untuk membaca titik balik momentum, dan yang paling krusial—koordinasi serta timing yang sempurna dalam melaksanakan serangan balik multi-elemen. Prosedur yang terlihat hierarkis ini, dari pembangunan pertahanan berlapis, transisi counterattack tiga elemen, hingga pembersihan area dengan formasi regu, adalah blueprint operasional bagi satuan infanteri besar untuk menguasai siklus pertempuran dan mengalahkan lawan yang lebih kuat melalui superioritas taktik dan manuver.